Lembaran

Senin, 25 Januari 2016

Rintik Pagi

Ada suara di antara dedaunan
Berduyun tak hingga air menghujam
Membelah suara burung pagi
Jadikannya bisu di sarang

Menebus pagi mustahil sekarang
Aku tak melihat awan mengizikan
Bagaimana cahaya menerangi hati
Sedang aku membenam dengan rintiknya

Ada satu masa di lain waktu
Ketika itu payung menjagamu basah
Samar samar tampak selendang biru
Lilitannya merdu dan menjuntai angin

Saat ini, rintik hujan memaksaku kembali
Pada rindu yang tak kuharapkan
Rasa yang tak seharusnya ada

Ah kenapa selalu saja begini
Hal yang sama di pagi yang sama
Saat bejana bejana menganga
Berisi air hujan untuk ku teduh kan


posted from Bloggeroid

Kamis, 03 Desember 2015

Rindu dari Langit

Ada kabar dari langit tentangmu
Kerlip bintang menyapa jauh
Bertanya rindukah engkau
Kembali pada pelukkan hangat

Ada sebongkah rindu terkikis
Seakan lupa dari mana ia
Luput redam tenggelam
Buai bintang dunia ia terlupa

Kalam langit yang tertulis
Pada lembaran rindu ia memanggil
Kembalilah padaku
Dibawah naungan pengasih

Ia tak jua bergeming
Adakah mungkin darah itu membiru
Membeku kaku dan mati
Hati yang telah mati

Sekali lagi ia memanggil
Kembalilah padaku wahai engkau
Ia takkan kecil tanpamu
Kau akan kecil tanpanya

Banyak kasih yang tak hingga
Lupakah engkau?
Terus ku panggil engkau dalam
Izinkan hatimu lembut dan hidup



posted from Bloggeroid

Senin, 09 November 2015

Kemana

Memilih pergi dan menyerah
Atau tetap disana dan menunggu
Memilih dia yang pasti
Atau dia yang tak pasti

Hidup memaksa untuk memilih
Sebuah jalan nan panjang
Cabang-cabang yang tak hingga
Sekarang mungkin baik tapi esok?

Belajar pada yang tak pasti
Menggenapkan diri pada tekad
Belajar pada yang pasti
Menggenapkan pada janji

Aku lemah
Banyak memilih tanpa pasti
Aku lupa
Bahwa pilihan adalah janji

Meminang masa depan
Namun tak bersua untuknya
Melambai masa lalu
Namun lupa untuk melangkah

Selasa, 03 November 2015

Menerima Bahagia

Setapak demi setapak
Sedepa demi sedepa
Kaki kaki kecil lincah
Menari di bawah hujan

Tak peduli pada kuyupnya baju
Basahnya rambut
Seakan mereka lupa untuk sedih
Tersenyum, tertawa bersama hujan

Payung peneduh
Demi receh penebus lapar
Demi mereka yang menunggu
Untuk nasi hangat dirumah

Ada dua kaki kecil lagi
Memang mereka tiga bersuadara
Terlahir kedunia
Tanpa kenal siapa ayah siapa ibu

Ada setitik cahaya dari kejauhan
Perlahan membesar benderang
Dengan dua kantung plastik di gantung
Kembali cinta kaka pada adiknya

Bukan mempertanyakan mengapa aku disini?
Bukan menjawab aku tak berharap dilahirkan
Tapi katakanlah, aku menerima hidupku
Aku menerima kebahagiaan yang ada dalam diriku

Senin, 02 November 2015

Berpisah Untuk Kembali

Kita tahu ada matahari terbit dan tenggelam
Dimana di tiap awal perjalanan selalu ada akhirnya
Bibit tumbuh, mendewasa, tua, kering dan mati
Akan selalu ada perpisahan untuk sebuah pertemuan

Di akhir sebuah perjalan ada awal pertemuan
Adalah anomali pada kehidupanku
Tak bisa memberi lebih maaf sekali
Cukup tak sampai menuai bibit rindu

Terlalu lelah aku
Bagaimana memilih dia?
Sedang Dia terlupa !
Akan berurai airmata selalu
Manusia bersandar manusia

Bagaimana ku yakin dia adalah takdirku?
Sehinggalah ku rela ber'azam hanya dia pilihanku?
Bagaimanalah cinta semurah ucapan saja?
Sedang ia menungguku dalam rahim sembilan bulan?

Gejolak hati antara hitam dan putih
Pergi, pergi, pergi
Bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah
Ku tersesat dalam perjalanan batin

Sampai pada akhirnya,

Ku harap cinta melupakanku
Pergi jauh menjauh dan hilang

Hingga sampai pada serberkah cahaya
adalah cinta sesungguhnya yang terlupa

Semakin menerangi qalbu
Terus bercahaya dan hangat
Ini adalah sandaran sebenarnya
Sandaran pada Pencipta
Dan aku kembali


Rabu, 08 April 2015

Surau

Rindu saling berpaut saat adzan-adzan berkumandang diatas surau yang menengadah pada langitnya
Ingatanku tentang cinta yang lalu dengan air mata
Sekejap saja ku tenggelam dalam buaian rindu
Ketika sujud bersamamu pada malam-malam syahdu
Atau ketika pelukanmu mampu melembutkan hatiku yang membatu

Nama yang tak henti kuucap pada Rabbku
Untaian do'a takkan pernah terlalu panjang untukmu
Risauku hanyalah engkau yang sudah pergi bersama amalanmu

Do'a yang selalu kuderakan untukmu selalu saja datang bersama air mata
Engkau Rabbku, kumemohon dengan semua kerinduan, jagalah Ia dari apiMu
Resapilah hati kami dengan iman yang suci
Angkatlah derajat kami bersama orang tua kami ke tempat tertinggi surgaMu

Pada iqomah yang berkumandang
Rindu untukMu adalah hakikatnya
Antara cintaku padamu dan cintaku padaNya
Takkan pernah terpisah keduanya
Ikatan suci untukmu dan untukNya
Waktu membawa ku pada takbir
InsyaAllah, kita akan bertemu kembali dalam SurgaNya

commons.wikimedia.org

Kamis, 02 Oktober 2014

Kenangan

Waktu yang berlalu takkan meminta izin untuk pergi
Sama dengan gambar gambar dalam pikiran
Tak pernah meniatkan adanya dan hilangnya
Semua yang ada hadir, terasa dan hilang

Hadir kemudian hilang
Pikiran tak pernah memiliki kesempatan untuk merasa
Logika yang tak pernah mengerti cinta
Adalah sebab mengapa kemudian cinta yang hilang

Sesuatu yang terasa sulit bahkan mustahil untuk hilang
Karena hati kumpulan buih rasa yg biru
Merasai cinta takkan pernah habis hingga matimu
Takkan ada batas untuk cinta yang sejati
viona.heck.in
posted from Bloggeroid
Song from a Secret Garden